Diprediksi Mati, Allah swt. Menyelamatkannya Dengan Sedekah | Cerita Islami

       Syekh ‘Abdul Hadi Imam Masjid Jami’ur Ridhwan di Haleb, Syiria, pernah bercerita, “Di awal pernikahanku, Allah menganugerahkan kepadaku anak yang pertama. Kami sangat bergembira dengan anugerah ini. Akan tetapi, Allah swt. berkehendak menimpakan penyakit yang keras pada anakku. Pengobatan seakan tak berdaya untuk menyembuhkannya, keadannya semakin memburuk, dan keadaan kami pun menjadi buruk karena sangat bersedih memikirkan keadaan buah hati kami.
       Perasaan buruk itu menyeruak didalam hati, kami merasa tak berdaya memberikan pengobatan bagi anak kami. Kesehatan memang merupakan perintah dan ketentuan Allah swt. namun kita harus mengambil langkah langkah pengobatan dan tidak meninggalkan kesempatan atau sarana apa pun untuk mengobati suatu penyakit.
      Seorang yang baik menyarankan kami pergi ke seorang dokter yang berpengalaman dan terkenal. Anakku mengeluhkan demam yang sangat tinggi dan dokter itu berkata kepada kami, “Apabila panas anak anda tidak turun malam ini, ia akan meninggal esok hari.” Aku pulang bersama anakku dengan kegelisahan yang memuncak. Sakit menyerang hatiku hingga kelopak mataku tak mampu terpejam tidur. Aku pun mengerjakan salat, lalu keluar meninggalkan istriku yang menangis sedih di dekat anakku.
         Aku menyusuri jalanan, tidak tahu apa yang harus aku perbuat untuk anakku. Tiba tiba aku teringat dengan sedekah dan ingat dengan hadis Rasulullah saw., “Obatilah orang sakit diantara kalian dengan sedekah.” Namun, siapa yang akan aku temui di waktu malam seperti ini. Aku bisa saja mengetuk pintu seseorang dan bersedekah kepadanya, tapi apa yang akan ia akan katakan jika aku melakukan hal itu?
       Tiba tiba ada seekor kucing lapar yang mengeong di kegelepan malam. Aku menjadi ingat dengan sabda Rasulullah saw.ketika ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah berbuat baik kepada binatang bagi kami ada pahalanya?” Beliau menjawab, “Didalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya.”(Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). Aku segera masuk ke rumahku, mengambil sepotong daging dan memberi makan kucing itu.
         Aku menutup pintu belakang rumahku, dan mendengar suara istriku bertanya, “Apakah engkau bisa kembali secepatnya?” Aku bergegas menuju ke arahnya dan mendapat wajah istriku menyiratkan kegembiraan.
         Ia berkata “Sesudah engkau pergi, aku tertidur sebentar, masih dalam keadaan duduk. Aku bermimpi melihat diriku mendekap anakku. Tiba tiba seekor burung hitam besar dari langit terbang hendak menyambar anak kita, mengambilnya dariku. Aku sangat ketakutan, tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Tiba tiba muncul seekor kucing yang menyerang burung itu dan keduanya pun saling bertempur. Aku tidak mengira kucing itu lebih kuat dari pada burung itu, karena si burung badannya gemuk. Namun akhirnya, burung elang itu pun pergi menjauh, dan aku terbangun mendengar suaramu ketika datang tadi.”
        Syekh ‘Abdul Hari berkata, “Aku tersenyum dan merasa gembira dengan kebaikan ini.” Melihat aku tersenyum, istriku menatap ke arahku dengan terheran heran. Aku berkata kepadanya, “Semoga semuanya menjadi baik.”
             Kami bergegas mendekati anak kami, kami tak tahu siapa yang sampai terlebih dulu, penyakir demam itu sirna dan sang anak mulai membuka matanya. Dan pagi hari berikutnya, sang anak telah bermain main bersama anak anak yang lain di desa ini, alhamdulillah.
     Sesudah Syekh menyebutkan kisah menakjubkan ini, anak tadi yang telah menjadi pemuda berumur 17 tahun, serta telah sempurna menghafalkan Al-Qur’an dan menekuni ilmu syarak, menyampaikan nasihat yang mendalam kepada kaum muslimin di masjid orang tuanya, Masjid Ar-Ridhwan di Haleb, disalah satu malam dari sepuluh hari terakhir di bulan ramadan yang penuh berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *